Sign in
×

Login (email address)

Password

Interactive stories, text-based games and visual novels
RegistrationSign in
iFiction.net

iFiction.net

Запустить

BeeDummy

Into The Unknown

Dingin dan kerasnya bebatuan yang menjadi alas tidurnya adalah hal pertama yang menyambut kesadaran pemuda itu. Kemudian ia mendengar suara air yang lama kelamaaan semakin keras seiring dengan bertambahnya kesadaran. Bertumpu pada lengan, ia bangkit dan meringis begitu merasakan tubuhnya linu-linu dan kaku-kaku, tampaknya ia tidur dalam posisi tetap sepanjang malam.

Ketika seluruh kesadarannya telah terkumpul, ia menyadari bahwa ia tidak ingat dengan apapun termasuk dengan namanya sendiri.

Kalau kamu tidak hati-hati, pikiranmu akan tertinggal di sana selamanya.

Inventory :

Inventory

Ia mengambil kerikil terdekat dan melemparnya ke air. Tidak yakin mengapa ia melakukan ini. Mungkin karena dia suka dengan suara "blup" yang ditimbulkannya atau ia hanya merasa pernah melakukan ini sebelumnya meski tidak dapat membayangkan ingatan itu.

Suara gemericik air yang berjatuhan begitu menenangkan pikirannya. Tiba-tiba ia merasa seperti akan mengingat sesuatu, tetapi hilang begitu saja saat ia mengejar ingatan itu. Air terjun ini tidak begitu besar, namun memiliki banyak anak air terjun di sekitarnya. Di pinggiran yang lebih dekat dengan air terjun banyak batu-batu cadas besar yang kelihatan licin dan berbahaya.

Melihat lebih dekat

Sekarang ia dapat melihat lebih jelas air terjun yang tidak seberapa luas itu. Ia bermaksud melongokkan wajahnya di atas permukaan air dan nyaris terjungkal karena terpeleset, untungnya ia berhasil mengembalikan keseimbangannya dengan cepat. Ia tidak tahu seberapa dalam kolam air terjun itu, sejernih apapun airnya, dasar kolamnya tidak kelihatan.

Mencelupkan tangan

Melempar batu

Seketika ia menggigil saat air sedingin es itu ia cipratkan ke wajahnya. Tetapi ia merasa berkali lipat lebih baik dari sebelumnya. Sayang sekali ia tidak dapat melihat bayangan wajahnya dengan jelas.

Ia mulai menyebarkan pandangan dan menemukan bahwa dirinya berada di depan air terjun beraliran deras dengan air yang sangat jernih. Sementara daerah sekitar lainnya berupa bukit-bukit kecil rerumputan hijau yang cukup luas dan ia dapat melihat pepohononan konifera tinggi di kejauhan meskipun samar-samar karena tertutup kabut tebal.

Dingin sekali, pikirnya sambil menggosok-gosokkan telapak tangan. "Dimana aku?" tanyanya kemudian entah pada siapa. Ini terasa seperti di alam mimpi, kabut ada di seluruh tempat dan langit pagi yang mendung nampak ingin menurunkan hujan kapan saja.

Ia berjalan ke tengah lapangan